Archive for December, 2008

Arti Sebuah Komitmen

Author: Nurul Vita
12 4th, 2008

ARTI SEBUAH KOMITMEN

“Sungguh, orang-orang yang berjanji setia kepadamu, tiada lain dari berjanji setia kepada 4JJ1. Allah meletakkan tangan-Nya diatas tangan mereka. Tetapi barangsiapa melanggar janji, tiada lain dari melanggar janji terhadap dirinya sendiri. Dan barang siapa menepati janji yang dijanjikannya kepada Allah, Allah akan memberinya pahala berlimpah”

~ Qs Al Fath (kemenangan) 48 : 10 ~

Menyatakan sebuah janji adalah pekerjaan yang sangat mudah, namun menepati janji adalah sebuah langkah emas yang mampu meraih kepercayaan yang sangat tinggi nilainya bagi orang lain. Meski hanya sebuah janji kecil, namun sesungguhnya hal tersebut sangat berpengaruh pada kredibilitas seseorang. Berjanji adalah suatu hal yang amat penting , begitu pentingnya sampai – sampai mendapat perhatian serius dari TUHAN. Sebaliknya, tidak menepati janji adalah suatu langkah yang sangat mematikan kredibilitas seseorang. Oleh karena itu, janganlah berjanji sekiranya tidak bisa menepati. Saat kita berjanji , sesungguhnya kita menarik energy suara hati orang lain secara besar-besaran, yang dinamakan harapan. Lalu energy itu kita bawa pulang, dan jika tidak dikembalikan ke sumbernya, keseimbangan orang lain akan terganggu. Harapan (akan realisasi janji) tersebut telah kita tarik, dan belum kita kembalikan (janji belum terealisasi).Ingat, hukum aksi min reaksi, bahwa suatu aksi akan menimbulkan reaksi.

Hari itu adalah hari istimewa untuk anak pertama saya. Dia berulang tahun. Hari itu kami habiskan berkeliling kota, berenang dan menghabiskan sepotong kue tart. Setelah selesai saya menyampaikan suatu hal yang bagi saya begitu penting untuk perkembangan dirinya. Saya meminta dia untuk lebih rajin belajar di Rumah. Keesokannya, ketika saya lihat ternyata tak ada perubahan sama sekali dalam kesehariannya (Ia lebih senang bermain), kemudian saya bertanya, kenapa tak mau belajar. Ia seolah tidak mau peduli dan sama sekali tidak menghiraukan kata-kata saya. Suatu hari sambil bermain-main, saya bertanya lagi kepadanya, “Anakku, mengapa kamu tidak mau menghiraukan kata-kata Bapak?” Dia menjawab tanpa menoleh, “Habis dulu Bapak pernah janji untuk membelikan sepeda, tetapi sampai sekarang belum dibelikan!”Saya tersentak, sungguh saya telah lupa dengan janji saya. Tiga bulan yang lalu memang saya pernah berjanji apabila dia berulang tahun, saya akan membelikannya sepeda. Janji kecil yang saya lupakan itu sungguh-sungguh telah menarik habis tingkat kepercayaan yang saya miliki terhadapnya. Janji itu rupanya begitu melekat di hatinya, hingga ia tidak mau menghiraukan lagi kata-kata saya. Saya telah menarik habis energy “HARAPAN”suara hatinya, dan belum sempat mengembalikannya.

Sumber : ESQ Book, Hal 147, AryGinandjar